hhmm… itu bukan punya saya Bu” jawab Ari dengan terbata-bata, aku menatap mukanya yang sekarang memerah,“ Semenjak kapan kamu suka mengumpulkan majalah-majalah seperti ini Ri” kataku dengan ketus, seolah-olah ingin marah, padahal aku mulai terangsang melihat isi dalam majalah-majalah tersebut.Aku semakin kaget saat melihat benda yang sangat aku kenal ada di dalam tumpukan majalah tersebut, aku semakin deg-degan, dan napasku semakin tidak teratur, perlahan aku kembali mendekati Ari dan duduk di sampingnya,“Ari, kamu kok diam, semenjak kapan kamu suka baca-baca yang seperti ini?” mukanya semakin pucat, bingung harus berkata apa,“itu… itu… bukan…pu..punya Ari Bu, tapi punya temen Ari, iya




















