Nah, di sinilah aku ketemu lagi dengan Kelvin. Bokeb Kami berpakaian. Jam di meja sudah menunjukkan jam 11. Pokoknya kalau di jari manis kita belum ada cincin, pasti dikejar terus. Gaun panjang ini tidak mengijinkan aku mengenakan bra karena bagian punggungnya sangat terbuka. Sejujurnya aku ingin menikmati apa yang dia tawarkan, harus kuakui aku memang membutuhkannya. Kelvin terlihat normal-normal saja, dia hanya tersenyum di saat kita bertatapan. Dia akan pulang malam ini?” aku benar-benar merasa terhina. Aku bisa merasakan dirinya sudah terangsang. “Eks-ku belum pindah keluar dari sini… dia bisa mencak-mencak kalau mencium parfummu.”
“Hah!” aku serasa baru ditampar, mungkin balasan




















