Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Bokep India Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Hitam. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Aku masih mematung. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Ah bodoh. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Aku mengurungkan niatku. Bicara apa? Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah




















