Masih menutupi diri dengan tabloid. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Bokep Ia menekan-nekan agak kuat. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Dan kubuka celana pantai. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.




















