Aku dan Tia memilih untuk sembunyi di kamar. Bokep Montok Sepanjang jalan, tangan Evi selalu menggelanyut manja dan kepalanya di sandarkan dilenganku seakan tidak peduli berpasang-pasang mata menatap heran ke arah kami. Malam yang sangat dinginpun menjadi hangat oleh sentuhan-sentuhan tubuh Evi. Aku pun menyadarinya. Kami mulai gelisah hingga hanya menggesek-gesekkan kaki kami satu sama lain.Nafas Tia mulai turun naik tidak terkendali. Tanpa bermaksud untuk membuatnya kaget, aku langsung duduk di samping Evi. Hingga suatu hari, aku dekat dengan seseorang bernama Evi. Dari awal kedekatanku dengan Tia ini yang membuat perasaan kami berbeda, karena tidak bisa sedetikpun kami berpisah.




















