Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Bokep Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Kaki disandarkan di dinding. Duduk di tepi dipan. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Tunggu apa lagi. Agar kejadian kemarin terulang. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Haruskah kujawab sapaan itu? Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Mendadak jari tanganku dingin semua. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha.



















